Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juni 2011

cerpen surealis. peserta lomba cerpen fantasy 2011 Indonesia

Alfabeta
Oleh : kakak cahaya

Hanya ada Qif dan Re. Mereka berada dalam ruangan kaca yang mulai kabur oleh titik-titik hitam yang mulai tumbuh. Terangnya sinar mentari tampak enggan menerobos masuk melewati titik-titik hitam itu. Dan itu semakin membuat Re gusar. Qif tertunduk diam, helaan nafasnya berat. Hatinya perih. Sejak tadi Re berontak dan mengamuk di ujung sana. Menggedor-gedor dinding-dinding kaca yang semakin buram sekaligus melemahkan pintu pertahanan diri Qif. Qif sadar keadaan ini akan menghancurkan rumah kaca mereka. Cengkeraman Qif pada pintu kaca semakin kuat, membenamkan kukunya yang berwarna kuning pucat. Tiba-tiba kuku itu menajam. mata Qif memanas, jiwanya tegang, marah. Re seakan tak memahaminya, baru kali ini Re memaksanya membunuh Nune yang juga dijaga dan disayanginya. ‘Dan itu tak mungkin’ desahnya parau sembari menghempaskan pintu. Rumah kaca itu pun bergetar, menimbulkan retak di setiap sudutnya.
* * *
            Ranting-ranting gundul tak dipoles daun menambah gersangnya panas siang. Seperti biasa negeri Anomi berada dalam kesibukan yang hening. Qif berjalan terburu-buru. Janji mengirim pesan pada Bi membuatnya tak menghiraukan panas yang menyengat. Pesan dalam gelang berbentuk lingkaran berwarna jingga tergenggam di tangan kirinya. Sambil memperlebar langkah Qif tampak sumringah. ‘apa kataku ku juga, Bi pasti akan membutuhkan apa yang baru kuselesaikan ini’ gumamnya percaya diri. Beberapa menit kemudian, tugas itu selesai. Qif segera meninggalkan Alfabeta, ruang penghubungnya dengan dunia di luar Anomi. Jejak langkahnya terasa ringan. Qif meraih kertas putih dari saku bajunya. Dibuatnya sebuah pesan maya, dan pesan pun menguap, terbang dibawa angin. Pesan itu pun terkirim.
To : Bi
‘Sli difsj ,rmhoto,lsm r,so;mus. Vrl us. Liyimhhi I,[sm ns;ol,I’
Sender : Qif
* * *
Ruangan yang sempit, Re berjalan hilir mudik. Mendesah resah dan berkecipak kecipuk dalam omelan yang tak nyata.
‘Menurut ku, kau bodoh Qif…. Kau hanya dimanfaatkan Bi….. Apa kau tak sadar…..’ Suara lembut yang berjeda-jeda dari Re keluar, menanggapi pengakuan Qif waktu itu. Kejadian itu telah berlangsung 12 bulan yang lalu.
‘Siapa yang menyangka, kau berani keluar Anomi dan memakai Alfabeta?... Kenapa Qif?....Kenapa demi Bi kau langgar aturan yang tak boleh dilanggar di Anomi? Kau tahu kan perlahan itu akan merusak rumah kaca kita?.... Kenapa harus tunduk dan patuh pada Bi…. Siapa Bi?.. Kenapa harus dia?!...’ nada protes Re berulang-ulang semakin menjadi-jadi dan bertambah tajam. Qif hanya diam. Untuk sesaat Qif ragu pada kepercayaan dirinya.
‘Ku pikir belum saatnya Qif…waktunya belum tiba, Alfabeta tak boleh disentuh sebelum izin itu datang. Bertahanlah sejenak sampai waktunya tiba…..’ suara Re pelan, menghiba.
‘Aaah…sudahlah… toh semuanya akan baik-baik saja. Hitung-hitung sebagai manifestasi negeri Anomi dan diriku Re… tak ada orang yang tahu negeri Anomi itu ada, begitu juga kita. Jadi sudah saatnya’ ujar Qif bernada gusar, tepatnya membela diri. Qif menghela nafas panjang, bimbang.
‘Ada apa dengan dirimu Qif?... Dirimu yang taat pada aturan dan baik selama ini kemana?... Bagaimana mungkin Bi merampas semua kendalimu?... Aku tak percaya hal ini terjadi padamu Qif….’ bergetar suara Re memecah suasana dialog mereka malam itu.
Untuk sesaat hening menyelimuti mereka. Bulan yang temaram berwarna pucat di atas sana, enggan membiaskan cahayanya pada rumah kaca mereka.
‘Aku melakukan ini karena aku menyayangimu Qif… Sepenuh jiwaku. Aku tak ingin kau melakukan kesalahan…. Kau tahu, berhubungan dengan Alfabeta sebelum waktunya adalah fatal dan kau akan mendapat sangsi dari pengadilan langit karena kesalahan itu fatal’ Re mulai terisak.
Sesaat Qif bergidik ngeri. ‘Keadilan langit’ Qif bergumam. Qif sadar, perhitungan keadilan langit atas tindakan penduduk negeri Anomi tidak main-main. Iya atau tidak, benar atau salah. Balasannya surga atau neraka. Semuanya bisa dipilih. Sesuai kesanggupan masing-masing menanggung akibatnya. Qif meneguk ludah.  
‘Re…aku tahu itu Re, teramat tahu dengan itu, tapi….tapi…aku ingin mencoba….apa salahku mencobanya….aahrgh……’ Qif terbata dan kehilangan kata-kata melanjutkan kalimatnya. Pikirannya goncang, hatinya gusar, jiwanya kacau, bahasanya luruh, tubuhnya lunglai, terhempas ke dalam keraguan yang dalam.
‘Aku mengerti Qif… jika memang itu pilihanmu, aku menyerah. Aku tak akan ikut campur untuk urusanmu kali ini. Tugasku selesai. Mendampingimu saat kau menemuiku di rumah kaca. Sepertinya rumah kaca kita tak akan bertahan lama. Keberadaanku akan hilang seiring kehancuran kaca-kaca ini. Yang ada hanya kosong. Tak kan berarti apa-apa lagi. Perlahan namun pasti semua itu akan terjadi... Aku mati….’ Kalimat-kalimat Re bergetar. Perlahan Re mundur, menatap Qif dalam nanar.
Kalimat Re barusan langsung menyentak Qif. Re berbisik ‘Sebelum terlambat, ada baiknya ku serahkan semuanya….’ berhenti sesaat, Re menarik nafas lalu melanjutkan ‘…..pada Nune’
Qif terperangah. Belum sempat Qif bersitatap dan menjawab, tubuh Re menyusut, sedikit demi sedikit memudar. Qif tersentak, berusaha mengejar, saat Qif sampai pada titik tempat Re berdiri, yang tinggal hanya bayangannya yang menguap disapu asap tipis. Re pun menghilang. Meninggalkan Qif dalam rasa bersalahnya yang membingungkan. Dan rumah kaca itu pun semakin kelam ditelan gelapnya malam.
* * *
Negeri Anomi tampak biasa. Sibuk dengan kesunyian yang memendam di jiwa. Qif mengela nafas berat. Memandang jauh ke cakrawala. Hening. Awan-awan putih bergelora memenuhi selaksa mega. Qif kembali terpekur, mencoba paham. Apa yang dirasakan Re semata-mata demi kebaikan jiwanya. Re menunaikan tugasnya untuk menjaga kestabilan dirinya. Itu amanat. Sebuah pesan dari keadilan langit dan Qif tahu, Re akan menunaikan tugas itu semampunya sampai batas terakhir hidupnya dengan pengorbanan apa saja.
Belakangan keadaan ini menempatkan Qif pada keadaan yang serba salah. Entah mengapa ada perasaan ragu dalam diri Qif untuk menerima kegusaran Re. Qif merasa sudah saatnya mencoba keluar dari Anomi selama ini. Qif merasa dirinya bisa, pantas dan layak, keluar zona Anomi lantas mencoba Alfabeta. ‘Kenapa tidak? Aku ingin bebas….. merasakan indahnya dunia di luar sana….tanpa tekanan, tanpa aturan….andai dunia diciptakan sesuka apa yang aku mau.. aargh…’ Qif sadar dengan nelangsanya yang bias. Bimbang.
Akhirnya, keinginan itu diwujudkan Qif dengan memakai Alfabeta sebelum waktunya. Ruang penghubung dengan dunia luar. Hal ini adalah pelanggaran terberat aturan negeri Anomi. Keluar dari Anomi sama dengan mempertaruhkan hidup dan mati jiwa di tengah mata-mata srigala yang siaga memangsa di luar sana tanpa pengawasan dan izin resmi dari negeri Anomi. Pilihannya hidup atau mati. Putih atau hitam. Dan Qif lupa akan hal ini.
Percobaan pertamanya membawanya bertemu Bi. Seseorang yang bisa memasuki sunyinya Anomi dan berdialog di dalam hati dan jiwanya. Qif mulai merasa ada yang berbeda dengan jiwanya. Sifat pemberontakannya lahir dan perlahan namun pasti jiwanya mengeras. Tegas. 
Disaat itulah Re muncul, memanggilnya dari rumah kaca dan mulai mewanti-wanti Qif. Rumah kaca mereka ditumbuhi titik-titik hitam. Perlahan-lahan merambat naik dari lantai menuju dinding-dinding rumah kacanya. Sinar mentari pun seolah enggan berbagi sinarnya untuk masuk menerangi rumah kaca. Rumah kaca itupun semakin kelam. Hal itu membuat Re gusar, karena bagi Re cahaya itulah sumber kekuatan hidupnya.  
 ‘Qif mulai jauh, keluar batas Anomi…. dan semakin lupa dengan rumah kaca kita…’ Re mendesah berat. Keberadaan Re di rumah kaca itu mulai terusik oleh titik-titik hitam yang menebal, Re merasa ditinggalkan, kerap berteman dalam kesunyian, membuatnya perlahan-lahan terasing, sekarat bahkan membuatnya hampir tak sanggup bertahan untuk hidup lagi.
* * *
Selamanya, rumah kaca itu akan tetap menjadi milik Qif. Begitu ketetapan langit atas setiap jiwa yang bernyawa. Di dalamnya ada Re dan Nune. Merekalah intisari jiwa Qif karena mereka berdualah akhirnya Qif hidup sebagai manusia biasa. Bukan Malaikat dan bukan pula Setan tetapi sebagai makhluk sempurna yang memiliki akal pikiran dan jiwa. Re dan Nune adalah hati dan jiwanya Qif. Merekalah yang senantiasa menemani saat Qif berhenti dari kesibukannya di Anomi lalu menceritakan banyak hal di rumah kaca mereka. Bagi Qif, Re dan Nune adalah belahan jiwanya. Begitu Qif menerjemahkan keberadaan mereka berdua. Walau pada belahan jiwa yang berbeda, kehadiran Re dan Nune menciptakan keseimbangan Qif. Namun entah mengapa, sejak Bi hadir dalam jiwanya, Re selalu gusar dan terakhir berakhir dengan marah. Qif bingung.
Lantas pada saat yang semakin rumit, dirinya dihadapkan pada keadaan tiba-tiba. Nune menghilang. Tepat saat Qif keluar Anomi dan memakai Alfabeta saat berhubungan dengan Bi, seseorang di dunia di luar sana sebelum waktunya. Qif paham itu, Nune sensitif terhadap kesalahan yang telah dilakukannya. Nune menghilang sebagai ganjaran atas sikapnya yang melakukan sebuah kesalahan. Kehilangan Nune membuat Qif terhempas pada sebuah kenyataan yang menyakitkan. Disatu sisi, dirinya menilai Keputusan Nune menghilang adalah tepat. Untuk sesaat, keadaan ini membuatnya semakin berani untuk keluar Anomi dan berhubungan dengan Bi di dunia di luar sana.
* * *
Nune terkesiap. Pandangan batinnya terhadap apa yang terjadi di rumah kaca mengisyaratkan sesuatu. Sesuatu yang jelas-jelas tak akan menyelamatkan Qif dan Re jika dibiarkan begitu saja. ‘Aku harus kembali’ gumam Nune. Instuisinya tak bisa dibohongi. Qif semakin terlarut, sementara Re akan habis dimakan titik hitam. ‘Semua itu tak boleh terjadi’ batin Nune, karena keadaan itu akan membunuh Qif secara perlahan tanpa sadar. Batinnya galau. Sementara Re sendiri di rumah kaca yang sekarat. Re acapkali keras terhadap sesuatu dan cenderung bertahan. Tetapi sampai kapan? Keadaan ini membuat Nune gusar.  ‘Qif yang keras kepala!’ serunya sambil mengepalkan jemari. Kesal. Parahnya Re pun tak paham alasan kepergiannya. Bagi Re, dirinya tak lebih dari seorang yang melalaikan tanggungjawab terhadap apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Nune menghilang pada saat rumah kaca mereka diambang kehancuran? Hanya itu yang ada di benak Re. dan Nune pun tersenyum kecut atas penilaian Re sekaligus geram atas sikap keras kepalanya    Qif. 
* * *
            ‘Alfabeta aadalah ambang batas kehidupan nyata dan tidak nyata di Anomi. Batas kesadaran dan ketidaksadaran diri. Batas sesuatu yang ada dan tidak ada di alam raya. Dasar berfungsinya Alfabeta adalah kekuatan keyakinan pengendali. Keyakinan akan pilihan bersikap pengendali dan keyakinan sanggup bertahan dalam gelompang transmisil antara Anomi dan Anema (negeri di luar Anomi)’. Begitu penjelasan tentang Alfabeta saat Nune kembali membuka kitab psikometeriknya. ‘bagaimana mungkin Qif berhasil melewati Alfabeta sebelum masanya? Dari mana kematangan itu diperolehnya? Kekuatan pengendali, bagaimana mungkin Qif memilikinya? Titik-titik hitam itu penanda kesalahan Qif dengan Alfabeta. Tetapi bisa jadi terjadi  karena izin yang tak ada’. Nune mendesah. heran, takjub, bingung, campur jadi satu. Nune geleng-geleng kepala tak habis pikir. ‘Dasar Qif’ gerutu batinnya.
***
            Kepergian Nune kali ini punya alasan cukup kuat. Nune tak pernah menyangka bahwa kepergiannya sesaat dari rumah kaca akan bersamaan dengan sikap perlawanan yang dipilih Qif dengan caranya sendiri. Qif terlalu penasaran, tak sanggup bertahan dan tak tahan ingin mencoba. Nune tahu, hal ini telah terjadi dalam diri Qif sejak lama. Alfabeta. Itulah yang ingin dicoba Qif. Kesempatan berpetualang yang luar biasa bagi jiwa-jiwa sekeras dirinya. Begitulah kesimpulan Qif.
***  
            Bagi Re, negeri Anema tak lebih dari sekedar negeri yang chaos. Negeri yang antah barantah dan berada dalam kekacauan. Entah negeri yang mana. Yang pasti negeri di luar Anomi adalah negeri-negeri Anema. Mungkin Re tak paham bahwa banyak negeri di luar Anomi. Persentuhan Qif dengan Bi warga Anema antah barantah serta memakai Alfabeta sebelum waktunya adalah kesalahan fatal dalam perkembangan hidup Qif. Dan itu tak termaafkan oleh Re. Hanya Nune yang menganggap hal itu wajar terjadi dan tetap bisa dipahami dari gejolak keingintahuan Qif. Bagaimana tidak. Nune paham. Qif adalah seorang yang berjiwa keras dan pantang menyerah. Toh sebentar lagi masa Qif akan tiba. Dan Nune diberi amanat dari langit untuk menjemput surat perintah agar        Qif mulai bebas memakai Alfabeta. Namun sayang, sebelum Nune tiba dan izin itu keluar, Qif memulai dengan caranya sendiri.
***  
Dulu rumah kaca itu bening. Sebening intan berlian. Berkilauan diterpa semburat mentari di pagi hari. Cahaya putih terang tak pernah segan menelisik setiap sudut rumah kaca itu. Namun hal itu tak terjadi kini. Lihatlah. Titik-titik hitam menjalar menari-nari di atas kebeningan kaca-kaca serupa krsital itu. Semua itu akibat ulah Qif. Satu titik hitam itu adalah satu pertanda bahwa Qif melakukan kesalahan. Entah melanggar aturan Anomi, entah memakai Alfabeta tanpa izin atau entah bertambah keras jiwanya Qif. Re dan Nune semakin tak paham apa yang telah dilakukan Qif. Rumah kaca itu semakin kotor. Re yang sanggup bertahan di rumah kaca yang kelabu itu walau gundah, dan Nune yang tetap yakin rumah kaca itu akan kembali bening esok walau bergumul resah.
‘Ini hanya persoalan proses Re, biarkan Qif belajar dewasa. Jika pun dia gagal untuk memulai petualangan pertamanya, hal itu tetap tak akan sia-sia bagi proses pendewasaanya. Sunguh tak ada kegagalan selama itu membuat Qif belajar. Banyak hal yang akan didapatkannya. Sudah tiba saatnya Qif bertindak sesuai inginnya. Kita hanya bisa berharap Qif tetap menjadi seorang pewaris Anomi sejati. Qif yang baik dan taat pada aturan hidupnya’ parau suara Nune memecah keheningan. Bagi Re, semua penjelasan itu adalah pembelaan Nune untuk  Qif.  Re mendengus gusar. Tak terima.
‘Bagimu, apa yang dilakukan Qif, tak ada yang salah. Semuanya benar. Apa kau sadar, menggunakan Alfabeta sebelum waktunya dan tanpa izin adalah salah. Dan itu fatal. Peraturan tetap peraturan Nune ! Dan itu tak bisa dilanggar ! Bagaimana keputusan pengadilan langit jika kesalahan Qif masuk dalam daftar sidang pengadilan pelanggaran masa sekarang?!’ pertanyaan tendensius Re hanya dibalas Nune dengan senyum kecut dan tunduk yang dalam.
‘Aku mencoba memahami semua posisi kita Re… kau yang tetap tegas dengan semua aturan yang ada, Qif yang keras dengan pendiriannya dan aku yang memandang kewajaran atas sikap Qif. Jika itu salah, maka semua kita salah. Dan jika itupun benar maka semua kita pun benar’ lirih Nune menjawab tudingan Re.
Hembusan nafas yang berat menyelingi jeda yang tercipta di antara mereka. Nune benar, dan Re juga benar. Qif lah yang membuat semuanya kacau. Hari ini Nune kembali. Menemui Re yang semakin terpuruk dalam rumah kaca mereka yang semakin buram. Dan menyadari bahwa keadaan tidak sebaik yang dibayangkannya.
***   
Qif bimbang. Ini untuk yang kesekian kali dirinya melakukan hal yang sama. Melewati Alfabeta tanpa izin dan berhubungan dengan makluk asing dari negeri Anema, Bi. Inilah pangkal masalahnya. Bagi Qif, hal ini sesuatu yang wajar dilakukannya. Kenapa tidak? Toh masanya akan tetap datang. Tidak sekarang maka pada masa yang akan datang. Lalu dimana letak masalahnya? Hanya masalah izin. Sepenuhnya dia berhak atas Alfabeta. Begitu yakinnya di dalam hati.
Lalu Bi. Tak ada yang salah atas makhluk asing negeri Anema yang berasal dari negeri yang bernama Dunya itu. Semuanya berjalan baik-baik saja. Pertemanannya dengan Qif membawa Qif pada satu kesan ada makhluk lain di luar negerinya yang ternyata baik dan memiliki banyak hal unik yang tidak didapatkannya di dalam Anomi. Dan inilah yang tak dipahami Re dan Nune.  Semua itu membuat Qif paham bahwa hidup bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan berbagi agar hidup terasa lebih berarti. ‘aah… andai Re dan Nune menegrti semua yang kurasakan’ gumam Qif dalam hati. Semuanya benar-benar  tak ada masalah bagi Qif. Lantas kenapa Re dan Nune resah gelisah. Tak sampai nalar Qif pada alasan keresahan Re dan Nune terhadapnya.
***  
Tiga sosok itu tampak membayang di dalam rumah kaca yang semakin gelap. Re marah. Wajahnya tegang. Urat syaraf pelipisnya berkilat-kilat merah. Tangannya terkepal. Nafasnya memburu dan pandangannya tajam ke arah Nune dan Qif. Nune tampak jerih. Keringatnya bersimbah. Nafasnya naik turun dan tubuhnya lunglai. Terduduk pada salah satu sudut rumah kaca. Menyerah kalah. Sementara Qif, bingung, heran dan juga marah. Kukunya mencengkeram kuat pada dinding-dinding kaca sementara matanya merah menyala. Bersitatap dengan Re melakukan perlawanan.
Semuanya berhadapan, bertahan dengan keyakinan masing-masing.
 Re muak. Sudah habis masanya baginya untuk terus memberi maaf dan izin atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan Qif. Walau kesalahan itu kecil, tak berbentuk dan biasa. Baginya yang salah tetap salah. Tak ada kompromi.
 Sementara Nune tetap bertahan dengan pembelaannya terhadap Qif. Semuanya tak masalah selagi masih mengandung pelajaran dan membuat Qif belajar. Apa yang dilaukan Qif  hanya terkait proses. Jangan menilai hasil tapi lalui dulu prosesnya, begitu kuat keyakinan Nune.
Di ujung sana, Qif meradang. Emosinya lepas. Jiwanya keras. Berontak dalam ketidaksepakatan keputusan Re. ‘membunuh Nune?! Suatu hal yang tak mungkin ku lakukan!!’ teriak Qif meradang. ‘apa salahnya ?!’ Qif bersitatap dengan Re lebih tajam. Setiap kedip matanya menyelisik, gusar.
‘Kau tahu keadilan langit? Siapapun yang membela yang bersalah akan memikul balasan yang sama’ ujar Re dingin. ‘Mungkin Nune tak salah, tetapi kau !!!’ Re menunjuk tajam kearah Qif, ‘penyebab semua ini terjadi ! jika kau tak ingin Nune mati dan rumah kaca kita hancur dimakan titik hitam, maka…’ suara Re berubah parau. ‘Tinggalkan Bi, putuskan hubunganmu dengannya, menjauhlah dari Anema dan hancurkan Alfabeta’.
Kalimat-kalimat tadi bersipongang menggedor setiap helai bulu-bulu telinga Qif. ‘apa ?!!!’ sergahnya cepat. ‘tak mungkin !!! mustahil !!!’ jawabnya tak yakin.
‘Terserah !!! pilihanmu sulit Qif, membunuh Nune untuk menebus semua kesalahan fatalmu atau menghancukan Alfabeta’ kalimat terakhir Re dingin. Sedingin hati Qif untuk memutuskan keputusan akhirnya. Dan rumah kaca pun semakin gelap, ditelan titik-titik hitam.
    
***