Cari Blog Ini

Kamis, 24 November 2011

SaKit YanG MeNyeNanGkaN

Yang namanya sakit tetaplah sakit.Betul gak guys? 
(terserah mau sakit hati, sakit fisik atau jiwa sekalipun hehehe)
Rasanya betul begitu deh. Setidaknya kesimpulan itu yang kerap bertahan disaat menjalani sakit, tapi gak tahu juga nih, ternyata suatu saat, sang waktu bersekongkol menyimpan sebuah surprise untuk ku sehingga kesimpulan awal ku terhadap : 'sakit adalah sakit' terbantahkan dengan mutlak. ehehe

Siang itu begitu terik.
tugas dadakan sebagai asisten seorang dosen muda yang baru pulang studi, harus segera diselesaikan. huh. masalahnya membuatku harus keliling komplek fakultas buat nemuin tempat fotokopi untuk sekedar ngejilid laporan penelitian yang baru saja selesaikan. begitu nemu, langsung dah proses penjilidan itu dimulai.

Saat menunggu penjilidan selesai, kontan ni kerongkongan berontak (lho...kaki yang diajak jalan malah tenggorokan yang berontak aya-aya wae nyeuh  :p), beruntung di sudut ruangan tempat fotokopi ini ada lemari pendingin yang menyediakan berbagai macam minuman. 'nah... kebetulan'. begitu riangnya cetusan hati. lalu tangan pun dengan gampang mencomot sebuah botol yang bermerek Fresh ***, kesukaanku selama inih.

Baca bismillah, lalu teguk pertama, kedua dan ketiga. 'aaaaah... segarnyah ' ! ujarku tersenyum puas. tak menunggu lama, sedetik, dua, tida, empat dan lima detik. tiba-tiba 'glek' aku tersedak mendadak. kok kerongkonganku terasa nyeri yah? langsung batuk-batuk (sampe wajah berubah roman dari kuning, coklat, putih, dan berakhir ijo. kalo merahnya jangan disebut udah jadi warna dasar malah. hahaha) hey what's gonna happen? beberapa kali aku memandang botol minuman itu dan mengerenyitkan dahi. masih tak percaya dengan apa yangt terjadi namun apalah daya tenggorokan yang mendadak gatal, perih dan batuk yang mendengking-dengking adalah bukti nyata kegagalan nikmatnya minuman ini.

aku shock. kontan minuman ini melayang ke tong sampah. buk !!! terjatuh pasrah. isinya masih 3/3 lagi. aku pun bergidik ngeri. jangan-jangan-jangan-jangan-jangan lagi. begitu banyak jangan2 yang mendadak berubah jadi bintang yang beterbangan di atas kepalaku. pusing. secepatnya ku selesaikan semua transaksi yang ada lalu setengah berlari menyerahkan  laporan penelitian yang barusan saja selesai dijilid.

lalu aku kembali keruangan kerja. merenungi kejadian nahas yang mendadak menimpaku. aku kembali menghitung2. aku salah apa ya? kok bisa begini jadinya.akhirnya karena berbagai tugas yang belum kelar, pikiran tentang 'salah pilih minum' dan 'saatnya apes' itu pun berlalu. terpending beberapa saat di memori kepala ku.

 Keesokan harinya aku pun harus beraktifitas seperti biasa. walaupun hidung meler (sst....mampu memproduksi cendol lho), batuk-batuk tanggung sampe kepala yang sedikit cenat-cenut aku tetap berangkat ngantor. apa boleh buat. begitu teguh hatiku meyakinkan langkah.

akhirnya sampailah aku ke kantor tercinta. langsung bertemu sang pimpinan. kontan batuk ku dalam keadaan show mode on. tanpa menunggu tempo batuk ku melambat, pimpinan langsung berseru 'ya sudah. kamu pulang saja. nanti saya ketularan'. sesaat aku terpana. bukannya langung jingkrak2 gara2 dapat istirhat dan gak kerja sampe flu dan batuknya hilang, aku malah dongkol bin sakit hati. You know what the reason friend? ini bagian dari pelecehan kawan. begitulah menurutku secara sepihak.  

'wah wah gak berprikemanusiaan sedikit pun !!!, nular baru tau rasa. rasain !!! Rutukku meradang. #dankutausetandisampingkusedangjingkrak2gakkaruanhihihihi'

akhirnya, akupun balik kanan. niat untuk kerja hari ini gak kesampaian. malah disuruh pulang.mungkin ini keberuntungan yang tak terduga. 'heyy....ingat kata2nya tadi. jangan ngantor sampe flu dan batuknya sehat'. cihuyyyyy hari ini baru rabu. okelah kalo begitu aku akan tak hadir sampe senin depan, tekad ku dalam hati.

seiring langkah ku pulang menuju rumah, aku merasakan bahwa sakit kali berakhir begitu menyenangkan hahaha
tiba2 lagu (entah tepat entah tidak), Bad Day nya Daniel Powter bergema di kupingku :

Where is the moment we needed the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to grey
They tell me your passion's gone away
And I don't need no carryin' on

You stand in the line just to hit a new low
You're faking a smile with the coffee to go
You tell me your life's been way off line
You're falling to pieces everytime
And I don't need no carryin' on

Cause you had a bad day
You're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know
You tell me don't lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don't lie
You're coming back down and you really don't mind
You had a bad day
You had a bad day

Well you need a blue sky holiday
The point is they laugh at what you say
And I don't need no carryin' on

You had a bad day
You're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know
You tell me don't lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don't lie
You're coming back down and you really don't mind
You had a bad day

(Oh.. Holiday..)

Sometimes the system goes on the blink
And the whole thing turns out wrong
You might not make it back and you know
That you could be well oh that strong
And I'm not wrong

So where is the passion when you need it the most
Oh you and I
You kick up the leaves and the magic is lost

Cause you had a bad day
You're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know
You tell me don't lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
You've seen what you like
And how does it feel for one more time
You had a bad day
You had a bad day

Had a bad day
Had a bad day
Had a bad day
Had a bad day
Had a bad day

AKHIR KALAM. ALHAMDULILLAH juga yaaaah ^-^
 
 *saat sikap acuh melahirkan keengganan. beginilah jadinya. Dingintanpa toleransi







Rabu, 09 November 2011

'simbiosis mutualisme over dosis idealisme'

Kisah pertemuan dengan seorang rekan sesama penelitian.....

Kebetulan nih orang punya riset yang sama dengan penelitian skripsi saya. Mahasiswa S3 jurusan Political Science dari Tsukuba University Japan. Nihon jin asli, syukurnya bisa bahasa. kalo kagak, keriting pula lidah saya 'merekonstruksi' pengantar dalam bahasa Jepang atawo English -yang malangnya kemampuan saya untuk dua bahasa ini masih fair dan belum excelent hoho ^^- berbuntut panjang. adu sms pun dilakukan.

Awalnya sms pengantar, berikut sampai pada isinya :
Senpai : mestinya kamu baca buku karangan Edward Said, supaya kamu tahu bagaimana pandangan barat terhadap orang timur. semua pemikiran kamu tentang saya pasti berubah. hohoho

Sebelum menjawab saya pikir ini orang kegeeran banget. hanya gara2 koran lokal memuat tanggapannya tentang Gempa besar yang disinyalir akan mengguncang kota tempat saya bermukim.akhirnya saya jawab begini :


Saya : karena masih sibuk penelitian senpai, saya tunaikan saran anda setelah skripsi saya selesai ok

beberapa waktu berlalu, penelitian kami kelar. senpai ini kembali ke Jepang dan melanjutkan kuliahnya. sementara saya, tak perlu menunggu waktu lama akhirnya dapat kerja, di universitas al mamater saya dulu.

singkat cerita, setelah satu tahun vakum dengan dunia ilmiah, akademis dan tulis menulis yang ideologis akhirnya saya kembali.

Tepatnya tak sengaja, saat itu, karena ada waktu luang dan leptop juga udah connect  dengan inet  akhirnya PR lama itu keinget. Langsung aja gugling dan menemukan beberapa kesimpulan setelah 'ngacak-ngacak' tulisan2 blogger mania tentang Mr. Edward Said ini.

Berikut kesimpulan saya :
“Adalah semangat oposisi, bukan akomodasi, yang menggenggam saya. Sebab romansa, kepentingan, tantangan kehidupan intelektual ditemukan dalam pembangkangan terhadap status quo pada masa, ketika perjuangan untuk kepentingan kaum yang tersisih serta yang malang, tampak ditimbang secara tidak adil. Dan di antara intelektual di lingkungan kekuasaan,  ternyata menghasilkan ketidakpedulian yang benar-benar mengejutkan,”ungkap Edward W.Said tentang dirinya.

terang saja saya harus meraba-raba dulu pesan moral dibalik 'suruhan' Senpai ini untuk mempelajari siapa Mr. Edward Said dan gagasan2nya. dengan sedikit nyeleneh akhirnya saya simpulkan juga. setidaknya ada dua pesan:  


*under recovery. waiting yah guys hihihi ^^!


 

Selasa, 08 November 2011

oleh-oleh cuti dari blog

Welcome back guys ^_^

Setelah cuti beberapa saat (nge-blog pake cuti segala, pembenaran alesannya maksa nih -_-")
Berikut 'oleh-oleh' dari komentator blog :
1. ini blog pengurusnya mana ya? well, blog acak kadut (hayo beres2 lageee)
2. wah, selamat yah udah punya blog. tapi sayang, gak ramah di mata pembaca (ugh musti design ulang niiih)
3. kemampuan nulis itu mesti dibarengi dengan kontinuitas berbagi. jarang loh ada yang jago nulis dan dinikbmati banyak orang (berbunga2, masih mending :p inih)
 overall, akhirnya, ini blog kepaksa di beresin lagi
last but not least, kepada teman2 selamat menikmati blog lama, design baru dari sayah :P
by:
kakak cahaya
* saat PR masih banyak dan waktu yang ada juga mepet ^_^





Kamis, 23 Juni 2011

cerpen surealis. peserta lomba cerpen fantasy 2011 Indonesia

Alfabeta
Oleh : kakak cahaya

Hanya ada Qif dan Re. Mereka berada dalam ruangan kaca yang mulai kabur oleh titik-titik hitam yang mulai tumbuh. Terangnya sinar mentari tampak enggan menerobos masuk melewati titik-titik hitam itu. Dan itu semakin membuat Re gusar. Qif tertunduk diam, helaan nafasnya berat. Hatinya perih. Sejak tadi Re berontak dan mengamuk di ujung sana. Menggedor-gedor dinding-dinding kaca yang semakin buram sekaligus melemahkan pintu pertahanan diri Qif. Qif sadar keadaan ini akan menghancurkan rumah kaca mereka. Cengkeraman Qif pada pintu kaca semakin kuat, membenamkan kukunya yang berwarna kuning pucat. Tiba-tiba kuku itu menajam. mata Qif memanas, jiwanya tegang, marah. Re seakan tak memahaminya, baru kali ini Re memaksanya membunuh Nune yang juga dijaga dan disayanginya. ‘Dan itu tak mungkin’ desahnya parau sembari menghempaskan pintu. Rumah kaca itu pun bergetar, menimbulkan retak di setiap sudutnya.
* * *
            Ranting-ranting gundul tak dipoles daun menambah gersangnya panas siang. Seperti biasa negeri Anomi berada dalam kesibukan yang hening. Qif berjalan terburu-buru. Janji mengirim pesan pada Bi membuatnya tak menghiraukan panas yang menyengat. Pesan dalam gelang berbentuk lingkaran berwarna jingga tergenggam di tangan kirinya. Sambil memperlebar langkah Qif tampak sumringah. ‘apa kataku ku juga, Bi pasti akan membutuhkan apa yang baru kuselesaikan ini’ gumamnya percaya diri. Beberapa menit kemudian, tugas itu selesai. Qif segera meninggalkan Alfabeta, ruang penghubungnya dengan dunia di luar Anomi. Jejak langkahnya terasa ringan. Qif meraih kertas putih dari saku bajunya. Dibuatnya sebuah pesan maya, dan pesan pun menguap, terbang dibawa angin. Pesan itu pun terkirim.
To : Bi
‘Sli difsj ,rmhoto,lsm r,so;mus. Vrl us. Liyimhhi I,[sm ns;ol,I’
Sender : Qif
* * *
Ruangan yang sempit, Re berjalan hilir mudik. Mendesah resah dan berkecipak kecipuk dalam omelan yang tak nyata.
‘Menurut ku, kau bodoh Qif…. Kau hanya dimanfaatkan Bi….. Apa kau tak sadar…..’ Suara lembut yang berjeda-jeda dari Re keluar, menanggapi pengakuan Qif waktu itu. Kejadian itu telah berlangsung 12 bulan yang lalu.
‘Siapa yang menyangka, kau berani keluar Anomi dan memakai Alfabeta?... Kenapa Qif?....Kenapa demi Bi kau langgar aturan yang tak boleh dilanggar di Anomi? Kau tahu kan perlahan itu akan merusak rumah kaca kita?.... Kenapa harus tunduk dan patuh pada Bi…. Siapa Bi?.. Kenapa harus dia?!...’ nada protes Re berulang-ulang semakin menjadi-jadi dan bertambah tajam. Qif hanya diam. Untuk sesaat Qif ragu pada kepercayaan dirinya.
‘Ku pikir belum saatnya Qif…waktunya belum tiba, Alfabeta tak boleh disentuh sebelum izin itu datang. Bertahanlah sejenak sampai waktunya tiba…..’ suara Re pelan, menghiba.
‘Aaah…sudahlah… toh semuanya akan baik-baik saja. Hitung-hitung sebagai manifestasi negeri Anomi dan diriku Re… tak ada orang yang tahu negeri Anomi itu ada, begitu juga kita. Jadi sudah saatnya’ ujar Qif bernada gusar, tepatnya membela diri. Qif menghela nafas panjang, bimbang.
‘Ada apa dengan dirimu Qif?... Dirimu yang taat pada aturan dan baik selama ini kemana?... Bagaimana mungkin Bi merampas semua kendalimu?... Aku tak percaya hal ini terjadi padamu Qif….’ bergetar suara Re memecah suasana dialog mereka malam itu.
Untuk sesaat hening menyelimuti mereka. Bulan yang temaram berwarna pucat di atas sana, enggan membiaskan cahayanya pada rumah kaca mereka.
‘Aku melakukan ini karena aku menyayangimu Qif… Sepenuh jiwaku. Aku tak ingin kau melakukan kesalahan…. Kau tahu, berhubungan dengan Alfabeta sebelum waktunya adalah fatal dan kau akan mendapat sangsi dari pengadilan langit karena kesalahan itu fatal’ Re mulai terisak.
Sesaat Qif bergidik ngeri. ‘Keadilan langit’ Qif bergumam. Qif sadar, perhitungan keadilan langit atas tindakan penduduk negeri Anomi tidak main-main. Iya atau tidak, benar atau salah. Balasannya surga atau neraka. Semuanya bisa dipilih. Sesuai kesanggupan masing-masing menanggung akibatnya. Qif meneguk ludah.  
‘Re…aku tahu itu Re, teramat tahu dengan itu, tapi….tapi…aku ingin mencoba….apa salahku mencobanya….aahrgh……’ Qif terbata dan kehilangan kata-kata melanjutkan kalimatnya. Pikirannya goncang, hatinya gusar, jiwanya kacau, bahasanya luruh, tubuhnya lunglai, terhempas ke dalam keraguan yang dalam.
‘Aku mengerti Qif… jika memang itu pilihanmu, aku menyerah. Aku tak akan ikut campur untuk urusanmu kali ini. Tugasku selesai. Mendampingimu saat kau menemuiku di rumah kaca. Sepertinya rumah kaca kita tak akan bertahan lama. Keberadaanku akan hilang seiring kehancuran kaca-kaca ini. Yang ada hanya kosong. Tak kan berarti apa-apa lagi. Perlahan namun pasti semua itu akan terjadi... Aku mati….’ Kalimat-kalimat Re bergetar. Perlahan Re mundur, menatap Qif dalam nanar.
Kalimat Re barusan langsung menyentak Qif. Re berbisik ‘Sebelum terlambat, ada baiknya ku serahkan semuanya….’ berhenti sesaat, Re menarik nafas lalu melanjutkan ‘…..pada Nune’
Qif terperangah. Belum sempat Qif bersitatap dan menjawab, tubuh Re menyusut, sedikit demi sedikit memudar. Qif tersentak, berusaha mengejar, saat Qif sampai pada titik tempat Re berdiri, yang tinggal hanya bayangannya yang menguap disapu asap tipis. Re pun menghilang. Meninggalkan Qif dalam rasa bersalahnya yang membingungkan. Dan rumah kaca itu pun semakin kelam ditelan gelapnya malam.
* * *
Negeri Anomi tampak biasa. Sibuk dengan kesunyian yang memendam di jiwa. Qif mengela nafas berat. Memandang jauh ke cakrawala. Hening. Awan-awan putih bergelora memenuhi selaksa mega. Qif kembali terpekur, mencoba paham. Apa yang dirasakan Re semata-mata demi kebaikan jiwanya. Re menunaikan tugasnya untuk menjaga kestabilan dirinya. Itu amanat. Sebuah pesan dari keadilan langit dan Qif tahu, Re akan menunaikan tugas itu semampunya sampai batas terakhir hidupnya dengan pengorbanan apa saja.
Belakangan keadaan ini menempatkan Qif pada keadaan yang serba salah. Entah mengapa ada perasaan ragu dalam diri Qif untuk menerima kegusaran Re. Qif merasa sudah saatnya mencoba keluar dari Anomi selama ini. Qif merasa dirinya bisa, pantas dan layak, keluar zona Anomi lantas mencoba Alfabeta. ‘Kenapa tidak? Aku ingin bebas….. merasakan indahnya dunia di luar sana….tanpa tekanan, tanpa aturan….andai dunia diciptakan sesuka apa yang aku mau.. aargh…’ Qif sadar dengan nelangsanya yang bias. Bimbang.
Akhirnya, keinginan itu diwujudkan Qif dengan memakai Alfabeta sebelum waktunya. Ruang penghubung dengan dunia luar. Hal ini adalah pelanggaran terberat aturan negeri Anomi. Keluar dari Anomi sama dengan mempertaruhkan hidup dan mati jiwa di tengah mata-mata srigala yang siaga memangsa di luar sana tanpa pengawasan dan izin resmi dari negeri Anomi. Pilihannya hidup atau mati. Putih atau hitam. Dan Qif lupa akan hal ini.
Percobaan pertamanya membawanya bertemu Bi. Seseorang yang bisa memasuki sunyinya Anomi dan berdialog di dalam hati dan jiwanya. Qif mulai merasa ada yang berbeda dengan jiwanya. Sifat pemberontakannya lahir dan perlahan namun pasti jiwanya mengeras. Tegas. 
Disaat itulah Re muncul, memanggilnya dari rumah kaca dan mulai mewanti-wanti Qif. Rumah kaca mereka ditumbuhi titik-titik hitam. Perlahan-lahan merambat naik dari lantai menuju dinding-dinding rumah kacanya. Sinar mentari pun seolah enggan berbagi sinarnya untuk masuk menerangi rumah kaca. Rumah kaca itupun semakin kelam. Hal itu membuat Re gusar, karena bagi Re cahaya itulah sumber kekuatan hidupnya.  
 ‘Qif mulai jauh, keluar batas Anomi…. dan semakin lupa dengan rumah kaca kita…’ Re mendesah berat. Keberadaan Re di rumah kaca itu mulai terusik oleh titik-titik hitam yang menebal, Re merasa ditinggalkan, kerap berteman dalam kesunyian, membuatnya perlahan-lahan terasing, sekarat bahkan membuatnya hampir tak sanggup bertahan untuk hidup lagi.
* * *
Selamanya, rumah kaca itu akan tetap menjadi milik Qif. Begitu ketetapan langit atas setiap jiwa yang bernyawa. Di dalamnya ada Re dan Nune. Merekalah intisari jiwa Qif karena mereka berdualah akhirnya Qif hidup sebagai manusia biasa. Bukan Malaikat dan bukan pula Setan tetapi sebagai makhluk sempurna yang memiliki akal pikiran dan jiwa. Re dan Nune adalah hati dan jiwanya Qif. Merekalah yang senantiasa menemani saat Qif berhenti dari kesibukannya di Anomi lalu menceritakan banyak hal di rumah kaca mereka. Bagi Qif, Re dan Nune adalah belahan jiwanya. Begitu Qif menerjemahkan keberadaan mereka berdua. Walau pada belahan jiwa yang berbeda, kehadiran Re dan Nune menciptakan keseimbangan Qif. Namun entah mengapa, sejak Bi hadir dalam jiwanya, Re selalu gusar dan terakhir berakhir dengan marah. Qif bingung.
Lantas pada saat yang semakin rumit, dirinya dihadapkan pada keadaan tiba-tiba. Nune menghilang. Tepat saat Qif keluar Anomi dan memakai Alfabeta saat berhubungan dengan Bi, seseorang di dunia di luar sana sebelum waktunya. Qif paham itu, Nune sensitif terhadap kesalahan yang telah dilakukannya. Nune menghilang sebagai ganjaran atas sikapnya yang melakukan sebuah kesalahan. Kehilangan Nune membuat Qif terhempas pada sebuah kenyataan yang menyakitkan. Disatu sisi, dirinya menilai Keputusan Nune menghilang adalah tepat. Untuk sesaat, keadaan ini membuatnya semakin berani untuk keluar Anomi dan berhubungan dengan Bi di dunia di luar sana.
* * *
Nune terkesiap. Pandangan batinnya terhadap apa yang terjadi di rumah kaca mengisyaratkan sesuatu. Sesuatu yang jelas-jelas tak akan menyelamatkan Qif dan Re jika dibiarkan begitu saja. ‘Aku harus kembali’ gumam Nune. Instuisinya tak bisa dibohongi. Qif semakin terlarut, sementara Re akan habis dimakan titik hitam. ‘Semua itu tak boleh terjadi’ batin Nune, karena keadaan itu akan membunuh Qif secara perlahan tanpa sadar. Batinnya galau. Sementara Re sendiri di rumah kaca yang sekarat. Re acapkali keras terhadap sesuatu dan cenderung bertahan. Tetapi sampai kapan? Keadaan ini membuat Nune gusar.  ‘Qif yang keras kepala!’ serunya sambil mengepalkan jemari. Kesal. Parahnya Re pun tak paham alasan kepergiannya. Bagi Re, dirinya tak lebih dari seorang yang melalaikan tanggungjawab terhadap apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Nune menghilang pada saat rumah kaca mereka diambang kehancuran? Hanya itu yang ada di benak Re. dan Nune pun tersenyum kecut atas penilaian Re sekaligus geram atas sikap keras kepalanya    Qif. 
* * *
            ‘Alfabeta aadalah ambang batas kehidupan nyata dan tidak nyata di Anomi. Batas kesadaran dan ketidaksadaran diri. Batas sesuatu yang ada dan tidak ada di alam raya. Dasar berfungsinya Alfabeta adalah kekuatan keyakinan pengendali. Keyakinan akan pilihan bersikap pengendali dan keyakinan sanggup bertahan dalam gelompang transmisil antara Anomi dan Anema (negeri di luar Anomi)’. Begitu penjelasan tentang Alfabeta saat Nune kembali membuka kitab psikometeriknya. ‘bagaimana mungkin Qif berhasil melewati Alfabeta sebelum masanya? Dari mana kematangan itu diperolehnya? Kekuatan pengendali, bagaimana mungkin Qif memilikinya? Titik-titik hitam itu penanda kesalahan Qif dengan Alfabeta. Tetapi bisa jadi terjadi  karena izin yang tak ada’. Nune mendesah. heran, takjub, bingung, campur jadi satu. Nune geleng-geleng kepala tak habis pikir. ‘Dasar Qif’ gerutu batinnya.
***
            Kepergian Nune kali ini punya alasan cukup kuat. Nune tak pernah menyangka bahwa kepergiannya sesaat dari rumah kaca akan bersamaan dengan sikap perlawanan yang dipilih Qif dengan caranya sendiri. Qif terlalu penasaran, tak sanggup bertahan dan tak tahan ingin mencoba. Nune tahu, hal ini telah terjadi dalam diri Qif sejak lama. Alfabeta. Itulah yang ingin dicoba Qif. Kesempatan berpetualang yang luar biasa bagi jiwa-jiwa sekeras dirinya. Begitulah kesimpulan Qif.
***  
            Bagi Re, negeri Anema tak lebih dari sekedar negeri yang chaos. Negeri yang antah barantah dan berada dalam kekacauan. Entah negeri yang mana. Yang pasti negeri di luar Anomi adalah negeri-negeri Anema. Mungkin Re tak paham bahwa banyak negeri di luar Anomi. Persentuhan Qif dengan Bi warga Anema antah barantah serta memakai Alfabeta sebelum waktunya adalah kesalahan fatal dalam perkembangan hidup Qif. Dan itu tak termaafkan oleh Re. Hanya Nune yang menganggap hal itu wajar terjadi dan tetap bisa dipahami dari gejolak keingintahuan Qif. Bagaimana tidak. Nune paham. Qif adalah seorang yang berjiwa keras dan pantang menyerah. Toh sebentar lagi masa Qif akan tiba. Dan Nune diberi amanat dari langit untuk menjemput surat perintah agar        Qif mulai bebas memakai Alfabeta. Namun sayang, sebelum Nune tiba dan izin itu keluar, Qif memulai dengan caranya sendiri.
***  
Dulu rumah kaca itu bening. Sebening intan berlian. Berkilauan diterpa semburat mentari di pagi hari. Cahaya putih terang tak pernah segan menelisik setiap sudut rumah kaca itu. Namun hal itu tak terjadi kini. Lihatlah. Titik-titik hitam menjalar menari-nari di atas kebeningan kaca-kaca serupa krsital itu. Semua itu akibat ulah Qif. Satu titik hitam itu adalah satu pertanda bahwa Qif melakukan kesalahan. Entah melanggar aturan Anomi, entah memakai Alfabeta tanpa izin atau entah bertambah keras jiwanya Qif. Re dan Nune semakin tak paham apa yang telah dilakukan Qif. Rumah kaca itu semakin kotor. Re yang sanggup bertahan di rumah kaca yang kelabu itu walau gundah, dan Nune yang tetap yakin rumah kaca itu akan kembali bening esok walau bergumul resah.
‘Ini hanya persoalan proses Re, biarkan Qif belajar dewasa. Jika pun dia gagal untuk memulai petualangan pertamanya, hal itu tetap tak akan sia-sia bagi proses pendewasaanya. Sunguh tak ada kegagalan selama itu membuat Qif belajar. Banyak hal yang akan didapatkannya. Sudah tiba saatnya Qif bertindak sesuai inginnya. Kita hanya bisa berharap Qif tetap menjadi seorang pewaris Anomi sejati. Qif yang baik dan taat pada aturan hidupnya’ parau suara Nune memecah keheningan. Bagi Re, semua penjelasan itu adalah pembelaan Nune untuk  Qif.  Re mendengus gusar. Tak terima.
‘Bagimu, apa yang dilakukan Qif, tak ada yang salah. Semuanya benar. Apa kau sadar, menggunakan Alfabeta sebelum waktunya dan tanpa izin adalah salah. Dan itu fatal. Peraturan tetap peraturan Nune ! Dan itu tak bisa dilanggar ! Bagaimana keputusan pengadilan langit jika kesalahan Qif masuk dalam daftar sidang pengadilan pelanggaran masa sekarang?!’ pertanyaan tendensius Re hanya dibalas Nune dengan senyum kecut dan tunduk yang dalam.
‘Aku mencoba memahami semua posisi kita Re… kau yang tetap tegas dengan semua aturan yang ada, Qif yang keras dengan pendiriannya dan aku yang memandang kewajaran atas sikap Qif. Jika itu salah, maka semua kita salah. Dan jika itupun benar maka semua kita pun benar’ lirih Nune menjawab tudingan Re.
Hembusan nafas yang berat menyelingi jeda yang tercipta di antara mereka. Nune benar, dan Re juga benar. Qif lah yang membuat semuanya kacau. Hari ini Nune kembali. Menemui Re yang semakin terpuruk dalam rumah kaca mereka yang semakin buram. Dan menyadari bahwa keadaan tidak sebaik yang dibayangkannya.
***   
Qif bimbang. Ini untuk yang kesekian kali dirinya melakukan hal yang sama. Melewati Alfabeta tanpa izin dan berhubungan dengan makluk asing dari negeri Anema, Bi. Inilah pangkal masalahnya. Bagi Qif, hal ini sesuatu yang wajar dilakukannya. Kenapa tidak? Toh masanya akan tetap datang. Tidak sekarang maka pada masa yang akan datang. Lalu dimana letak masalahnya? Hanya masalah izin. Sepenuhnya dia berhak atas Alfabeta. Begitu yakinnya di dalam hati.
Lalu Bi. Tak ada yang salah atas makhluk asing negeri Anema yang berasal dari negeri yang bernama Dunya itu. Semuanya berjalan baik-baik saja. Pertemanannya dengan Qif membawa Qif pada satu kesan ada makhluk lain di luar negerinya yang ternyata baik dan memiliki banyak hal unik yang tidak didapatkannya di dalam Anomi. Dan inilah yang tak dipahami Re dan Nune.  Semua itu membuat Qif paham bahwa hidup bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan berbagi agar hidup terasa lebih berarti. ‘aah… andai Re dan Nune menegrti semua yang kurasakan’ gumam Qif dalam hati. Semuanya benar-benar  tak ada masalah bagi Qif. Lantas kenapa Re dan Nune resah gelisah. Tak sampai nalar Qif pada alasan keresahan Re dan Nune terhadapnya.
***  
Tiga sosok itu tampak membayang di dalam rumah kaca yang semakin gelap. Re marah. Wajahnya tegang. Urat syaraf pelipisnya berkilat-kilat merah. Tangannya terkepal. Nafasnya memburu dan pandangannya tajam ke arah Nune dan Qif. Nune tampak jerih. Keringatnya bersimbah. Nafasnya naik turun dan tubuhnya lunglai. Terduduk pada salah satu sudut rumah kaca. Menyerah kalah. Sementara Qif, bingung, heran dan juga marah. Kukunya mencengkeram kuat pada dinding-dinding kaca sementara matanya merah menyala. Bersitatap dengan Re melakukan perlawanan.
Semuanya berhadapan, bertahan dengan keyakinan masing-masing.
 Re muak. Sudah habis masanya baginya untuk terus memberi maaf dan izin atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan Qif. Walau kesalahan itu kecil, tak berbentuk dan biasa. Baginya yang salah tetap salah. Tak ada kompromi.
 Sementara Nune tetap bertahan dengan pembelaannya terhadap Qif. Semuanya tak masalah selagi masih mengandung pelajaran dan membuat Qif belajar. Apa yang dilaukan Qif  hanya terkait proses. Jangan menilai hasil tapi lalui dulu prosesnya, begitu kuat keyakinan Nune.
Di ujung sana, Qif meradang. Emosinya lepas. Jiwanya keras. Berontak dalam ketidaksepakatan keputusan Re. ‘membunuh Nune?! Suatu hal yang tak mungkin ku lakukan!!’ teriak Qif meradang. ‘apa salahnya ?!’ Qif bersitatap dengan Re lebih tajam. Setiap kedip matanya menyelisik, gusar.
‘Kau tahu keadilan langit? Siapapun yang membela yang bersalah akan memikul balasan yang sama’ ujar Re dingin. ‘Mungkin Nune tak salah, tetapi kau !!!’ Re menunjuk tajam kearah Qif, ‘penyebab semua ini terjadi ! jika kau tak ingin Nune mati dan rumah kaca kita hancur dimakan titik hitam, maka…’ suara Re berubah parau. ‘Tinggalkan Bi, putuskan hubunganmu dengannya, menjauhlah dari Anema dan hancurkan Alfabeta’.
Kalimat-kalimat tadi bersipongang menggedor setiap helai bulu-bulu telinga Qif. ‘apa ?!!!’ sergahnya cepat. ‘tak mungkin !!! mustahil !!!’ jawabnya tak yakin.
‘Terserah !!! pilihanmu sulit Qif, membunuh Nune untuk menebus semua kesalahan fatalmu atau menghancukan Alfabeta’ kalimat terakhir Re dingin. Sedingin hati Qif untuk memutuskan keputusan akhirnya. Dan rumah kaca pun semakin gelap, ditelan titik-titik hitam.
    
***  
           
           
           

Rabu, 18 Mei 2011

Buku the most wanted !!!

berkisah tentang nano-nanonya rasa sebagai mahasiswa
buku ini menjadi curhat story ngomel intelek (halah :p)
menunggu waktu yang tepat untuk beredar.
ini sekedar soft launching aja dikit. heheh
penasaran ??? chek it out.
limited edition
segera pesan !!! ^^

hubungi 085265265467

sedikit endors dari para reviewer naskah ini:

Prof. Dr. Mestika Zed,MA.  Sejarawan Nasional Indonesia:

Naskah ini bicara tentang dunianya, mahasiswa, dan berkomunikasi dalam bahasa kaumnya, kerennya bahasa “gaul” kawula muda. Silahkan. Itu ruang privat yang gak bisa dan tidak perlu diintervensi. Naskah ini tidak hanya berisi ‘permainan’ gagasan personal penulis dengan imajinasi personalnya, tetapi juga bersentuhan dengan dunia empirik, kenyataan. Berikan contoh yang blak-blakan karena  itu sah saja dalam penulisan lepas seperti naskah ini. Ok.


Mantan Presiden BEM UNP, editor Grafindo Bandung
Membaca "Catatan Mantan Seorang Mahasiswa" seolah merekonstruksi perang batin seorang mahasiswa tahun akhir vis a vis dosen "semena-mena penderita power syndrome" dan pandangan skeptis penulis terhadap Pegawai Negeri Sipil. Dari Frustasi, Berkontemplasi kemudian Berbuah Aksi inilah sebutan yang tepat untuk sebuah karya kritis penulis bernama pena "Kakak Cahaya", saya appreciate dengan buah pikir penulis ini. Sebuah usaha "kecil" untuk mengubah manusia agar mau berpikir "besar". Keterlibatan beliau sebagai kontributor Minimagz "Badai Otak" sangat mempengaruhi genre karya yang dihasilkan ini. Bergaya bahasa diary tapi tajam dan lugas, selamat menikmati and be skeptical!

dr.Evitrie Martarita, petugas kesehatan di Lubuk Basung city.:

Saya cukup sering 'ditodong' penulis utk menikmati karyanya. gaya bahasa,diksi,lugas mjd ciri khas penulis dlm menyampaikan ide,pesan dan hikmah dr setiap tulisan. kehidupan mahasiswa sangat sayang dilewatkan tanpa menempa diri dg berbagai aktivitas positif krn pasca kampus masyarakat menunggu karya para sarjana. jadilah khalifatullah. Longlife learning.

Ghopink, gembel Suramadu Brigde :

(((((tulisan ini bikin a gatel hati :D. sumpah :p. a mulai membaca pada jam saat sebagian bangsa manusia mulai beranjak tidur, sebagian yang lain sudah terkapar, a istiqamah membaca, kantuk a tahan, dari halaman ke halaman berikutnya... ***huft!! kejam benar dikau***  sampai pada akhirnya a sempat tertidur sejenak,, bangun lagi, baca lagi... hingga akhirnya sampai jg pd omelen anti tentang “pengajar yang kurang ajar”. A  ikut panas! Huft geram geram geram! A juga mengalami hal senasip, meski kasus berbeda... a menyebutnya: “MEREKA BUKAN MANUSIA!!!”... baca tulisan ni akan membuka luka lama... luka yang terpaksa diridhai... lalu kembali menuntut pembalasan... ah, kapan2 a bales... hahaha... *** mudah2an a lupa, amin*** BUT... kamu Jahat!!! pembaca hanya mampu memendam gejolak tanpa bisa berkoar2... **Sadis!!!**  hmm.. tp  rugi kalo ga baca,  apalagi kl g ikut ngomelll :p)))))))


Dyah Ayu, Mahasiswi Aktifis English Department Univ. Jember

Sebuah luapan curhat seorang mantan mahasiswa yang lugas, tegas dan cerdas. Membuat kepala sedikit berasap, bukan begitu pengajar?? Salute 4 Kakak cahaya

Roland Yulianto, tukang dorong gerobak orang di Jeddah, Saudi arabia. 
Diawali dengan judul "Catatan mantan seorang mahasiswa", dan cerita awal tentang skripsi, maka sekilas otak diajak berkesimpulan bahwa ini bercerita tentang pahit dan getirnya seekor hantu yang bernama “skripsi”. Ternyata oh ternyata, mengapa oh mengapa, kebiasaan manusia banget nih, kesimpulan diambil terlalu cepat..ckckck… ternyata tidak sampai disitu. Ide dalam tulisan ini menjadi curhat elegan, pintar, dan bukan sekedar teriakan hati. Buku ini sangat cocok untuk manusia yang mau berpikir, karena memang manusia harus berpikir. Yang pasti, salut untuk penulis buku ini yang berani menuangkan pikiran-pikiran kritis dalam contoh sederhana, namun mendasar dalam makna.


sedikit itu dulu ok. selamat penasaran !!!
^^

Senin, 18 April 2011

study club 'kepenulisan'

menulis yang tak henti

Menulis tak harus dipersepsikan harus dalam sebentuk buku atau artikel di media massa. Blog merupakan media yang amat personal untuk menuangkan gagasan kita. Namun tidak sedikit juga orang yang merasa kehabisan ide untuk menulis di blog. Nah, cara yang biasa kulakukan adalah :
  • Menuliskan apa yang kita alami
    Apa yang kita alami lebih mudah dituliskan ketimbang menulis hal-hal yang tidak kita alami. Apalagi menulis sesuatu yang sebenarnya tak kita kuasai ilmunya. Aku tak pernah menulis tentang dunia saham karena akan sangat tersiksa menulisnya. Kenapa? Karena aku tak mengerti tentang seluk beluk dunia saham. Karena itu aku kerap menulis apa yang kulihat, kualami, dan kugelisahkan. Realitas yang bersliweran dalam kehidupan kita dapat menumbuhkan ide menulis.
  • Status di jejaring sosial
    Banyak ide yang bisa memicu kita untuk menulis. Salah satunya adalah dari status kita maupun teman-teman di facebook atau cuap-cuap teman di twitter. Jejaring sosial yang biasanya ditulis dengan singkat itu sebenarnya bisa dikembangkan menjadi artikel utuh di blog. Wajar saja jika salah seorang rekan dari goodreads indonesia, Indri Juwono (yang ikut mewawancaraiku dalam talkshow tersebut) menyatakan tak bisa menikmati kultwit karena cenderung terpotong-potong dan menjadi tidak efektif. Ia lebih suka membaca tulisan utuh, seperti di blog.
  • Blogwalking
    Tulisan teman-teman kita di blognya juga bisa menjadi ide untuk menulis. Bisa jadi kita sepaham dengan tulisan teman, lalu kita menuliskannya kembali dengan tambahan pemikiran asli kita sendiri. Atau bisa jadi kita tidak sepaham dan ini merupakan pemicu positif untuk menulis persepsi kita pada blog kita sendiri. Karena itu, mengunjungi blog teman (istilahnya blogwalking) merupakan cara bagi mereka yang merasa sering kehabisan ide untuk menulis.
  • Komentar
    Sebuah tulisan pada kolom komentar di blog kita maupun di blog teman-teman juga bisa memicu ide kreatif kita dalam menulis. Karena itu sebagai penulis blog, disarankan untuk tetap rajin membaca, termasuk membaca rentetan komentar yang bisa kita lanjutkan menjadi tulisan yang runtut di blog kita.
  • Komunitas
    Keberadaan komunitas itu penting juga buat menjaga konsistensi menulis. Dalam setiap komunitas, ada saja topik-topik yang didiskusikan. Meskipun sudah dibahas pada milis maupun forum diskusi, tak ada salahnya jika kita tulis kembali pada blog kita. Seperti sebuah rangkuman diskusi.
  • Ngobrol
    Siapa sih yang nggak pernah ngobrol sama manusia lain? Nah, obrolan apapun, serius ataupun bercanda, sebenarnya bisa kita tulis di blog. Bahkan ini yang sering saya lakukan untuk mempertahankan konsistensi ngeblog.
  • Job review
    Ini yang menarik bagi beberapa blogger. Mendaftarkan blog kita pada agen blogreview juga pilihan lain agar kita tetap konsisten menulis. Bedanya, jika opsi di atas sangat personal dan bebas kita tuliskan, pada job review, kita dituntut menulis sesuai dengan permintaan advertiser. Memang bagi beberapa blogger, job review rada berat dilakukan, tetapi dalam konteks menjaga konsistensi menulis, kupikir tak ada salahnya dilakukan.
Demikian cara saya dalam menjaga konsistensi menulis. Bisa jadi teman-teman punya cara lain? Silakan share di sini. Terima kasih.
Jabat Erat!
MT

* posting ini di culik dari aggregator blog kelas menulis bersama mataharitimoer


Selasa, 12 April 2011

study club 'kepenulisan'^

Menulislah !!!


Jangan biarkan ide-idemu hilang begitu saja, tanpa catatan. Catatlah… tulislah walaupun hanya satu ayat, satu kalimat ! Idemu adalah hasil dari pemikiranmu yang datangnya bisa dengan tiba-tiba, bila tak dicatat, maka ide itu akan hilang dan tak dapat kembali lagi. 

Jangan biarkan hasil pemikiranmu berlalu tanpa catatan, tinggalkan untuk generasi mendatang. Jasadmu boleh terkubur tanah, tapi idemu harus tetap hidup sepanjang jaman. Para tokoh masa lalu yang hidup berabad-abad yang lalu … tapi namanya masih tetap disebut orang, pemikiranya masih dikaji dan dipelajari orang. Padahal jasadnya ntah sudah jadi apa, tapi hasil pemikiranya yang ditulis, sampai sekian abad tetap ada dan mengabadi !
Tulislah, walaupun hanya satu ayat. “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” sabda Nabi. Satu ayat, satu kalimat yang punya makna… akan terus dingat manusia. Jangan ragu untuk memulai menulis, mulai dari satu kata : Bismillah ! …. teruslah menulis, kamu harus meninggalkan sesuatu untuk generasi di masa kini dan generasi di masa depan.
Kalau kau mati tidak meninggalkan apa-apa, maka buat apa kau dilahirkan? Jadi jangan ragu … tulislah, walapun hanya satu kalimat. Tulislah walaupun hanya satu ayat dan tulisan yang sudah kau kirim atau di tulis di internet tak akan hilang dan terus akan tersimpan atau “mengabadi”.

Harta bisa hilang lenyap tanpa bekas, tapi ilmu yang ditinggalkan dan di wariskan, tak akan hilang, itulah uniknya ilmu, semakin dibagikan pada orang lain, semakin bertambah. Lain dengan harta, semakin dibagikan, semakin habis ! Kecuali harta yang di keluarkan di jalan Allah, seperti infak, sedekah, zakat dll, itupun jika memberikannya dengan ikhlas, bila tidak ikhlas, tidak dapat apa-apa dari Allah !

Wahai… sahabatku …. usiamu semakin mendekati kematian….umurmu semakin mendekati ajal, jangan biarkan berlalu tanpa ada ilmu yang kau wariskan bagi generasi yang akan datang. Tulislah wahai sahabatku, walaupun hanya satu ayat, walaupun hanya satu kalimat …., sekarang ! Jangan ditunda-tunda, siapa tahu besok hari kamu sudah tiada.

Tulislah … tinggalkanlah ilmu yang bermanfaat. Selagi umur masih ada, selagi napas masih bisa berhembus, selagi tangan masih bisa digerakkan, selagi pikiran masih bisa bekerja, selagi mata masih bisa melihat, selagi telinga masih mendengar, selagi hayat masih di kandung badan, selagi jari jemari masih bisa ngeklik kyboar tkomputer, selagi bonus umur masih tetap diberikan Allah, selagi keinginan dan kemauan ada, selagi minat masih menyala, selagi darah masih mengalir, selagi jantung masih berdetak, selagi mulut masih berkata, selagi kaki masih bisa berjalan, selagi karunia Allah masih kau terima, selagi air masih bisa kau minum, maka Tulislah !
Jangan biarkan ide-idemu hilang begitu saja. Di jaman orang yang serba berlari cepat, jangan sampai ketinggalan “kereta” harus ada sesuatu yang kamu tinggalkan yang sipatnya mengabadi, itulah ilmu atau tulisan yang disebarkan pada orang banyak. Salah satunya di eramuslim.com ini.
Bila tulisanmu di tolak atau tak dimuat, jangan membuatmu putus asa, jangan mengharap apa-apa, tugasmu hanya untuk berbagi, walau hanya satu ayat. Sampaikan walau satu ayat, sampaikan walau hanya sepotong ayat atau sepotong hadist.

InsyaAllah Ilmu atau apapun namanya, bila itu bermanfaat bagi orang lain itu sudah bernilai ibadah, jangan mengharap puluhan, ratusan, ribuan atau jutaan orang untuk membaca tulisanmu di tengah-tengah ” hutan belantara ” internet, yang memuat “nyaris” tak terhingga banyaknya tulisan.
Jangan muluk-muluk, satu dua orang sudah membaca tulisanmu dan satu dua orang itu berubah menjadi baik atau lebih baik dari sebelumnya, itu sudah cukup, karena berbuat baik pada seorang manusia, sama juga berbuat baik pada semua manusia, sebagaimana berbuat jahat pada seorang manusia, sama juga berbuat jahat pada semua manusia.
Demikian.

(from bukanberitadotcom)