Dimuat di RE_ID 2
RACUN EKSISTENSI SENIORITAS
Berhubung kakak cahaya sedang sibuk ngurusin proyek baru katanya, perkembangan racun eksistensi senioritas sedikit lola. Tak bermaksud membuatnya terbengkalai, tapi ingin membuatnya sedikit dinanti2. Hehe, (Jiyah begini nih sok the most wanted writer jika sedang on :p). Akhirnya karena merasa berhutang, ya sudahlah, tak bayar hutangnya dengan artikel lain yang berjudul ini. Selamat menikmati. Semoga terganti:D
SUDAH SAATNYA…
Saat orang-orang bicara tentang dunia ke 3, the new world order (tata dunia baru), aku pun bicara tentang itu. Bedanya aku memulainya sekarang, dari sini. Dengan keyakinan ini.
Sudah saatnya kebesaran ini kembali. Saat dulu para sahabat berlari penuh motivasi mengejar inovasi, menyambut turun firman illahi maka bergemuruhlah Makkah dan Madinah oleh lantunan takbir dan talbiyyah, ketika sunyi membungkam Eropa dan Konstantinnopel dalam kekakuan dogma gereja. Maka hangatlah diskusi2 di Basrah dan Kuffah, saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisi gereja. Maka bersinarlah perpustakaan di Kairo, ketika dukun komat kamit pada kegelapan Lisabon. Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat disemaraknya malam, ketika Paris gelap gulita sejak senja padam dalm mitos dan takhayul. Maka bergemiriciklah air di Damaskus dalam kesucian thaharah ketika bangsawan London mengangap mandi adalah berbahaya. Maka berdengunglah ayat2 Allah menjelang buka puasa dengan sajian kurma, yoghurt dan buah segar di balkon pualam Granada dan Cordova, saat katedral Wina dan Bern menutup jamuan makan malamnya dengan pudding darah babi. Maka tunduklah dua pertiga dunia dalam kelembutan penaklukan. Penaklukan terhadap buasnya hawa nafsu, kebodohan dan keterbatasan akal kepada keteraturan dan kesejahteraan hidup dalam martabat kemanusiaan yang mengutamakan nilai2 iman. Maka jadilah ummat ini besar, tinggi, megah namun tetap dalam kebersahajaan yang mendalam. Ahh… kita rindu keadaan itu kembali terjadi.
Begitulah. Ummat ini punya sejarah indah yang membebaskan. Maka kapan sejarah itu akan berulang lagi?
Maka sudah saatnya, jarak antara islam dan manusia muslim itu seperti setali tiga uang. Melepas belenggu “al islaamu mahjuubun bil muslimiin” bahwa keagungan islam tertutup oleh kekerdilan umatnya. Lalu tersingkap lahir dalam bentuk kebesaran manfaat. Maka sudah saatnya keagungan ideology islam tak hanya menang dalam tataran pemikiran jika diperdebatkan, tetapi sudah saatnya keagungan itu turun gunung dan berbaur dalam kehidupan yang sesungguhnya. Sudah saatnya dimensi kehidupan manusia (pemerintahan, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, kesehatan, keamanan, kesenian, social budaya, dll) menerapkan keagungan2 islam. Sudah saatnya antara islam dan muslim tak ada bedanya. Sudah saatnya tidak terbedakan lagi antara pesona kebenaran islam dengan pesona kepribadian seorang muslim. Ya sudah saatnya itu tiba….
Sudah saatnya ummat ini sadar pada kebesaran agamanya. Melahirkan pemahaman yang mengakar dan menghujam dalam dada2 setiap muslim sehingga kesadaran ini memberi kekuatan untuk bergerak. Bergerak membersamai kehidupan. Menebar kerja-kerja bermanfaat. Mendistribusikan kebaikan segenap penjuru langit dan bumi. Berpartisipasi dalam setiap amal dan membentuk percepatan bangunnya sebuah peradaban yang tertidur. Itulah dunia ke tiga kita. Sudah saatnya kebaikan dari langit itu dibalas oleh kebaikan penghuni bumi pula.
Sudah saatnya kita kembali sejenak merenung dan berfikir, bahwa dunia ada untuk ku dan aku ada untuk dunia. Dari langit untuk mu bumi dan dari bumi untuk mu langit. Sudah saatnya kita bangun dengan kesadaran baru, memulai hari dengan niat baru dan berbuat hal2 yang baru. Mengintegrasikan pemahaman dalam tindakan. Dan semoga kita menjadi bagian dari perjalanan menuju jayanya islam yang rahmatan lil a’lamin.
Maka….Sudah saatnya sekarang teman2……*
*diramu dari ide seorang penulis asal jogja, mas..^^
gua suka gaya lo :-*
BalasHapusgaya yang mana yang lo suka frend? ^^
BalasHapus